Jumat, 24 Februari 2012
Semar Bingung's Weblog: Cara Cepat Dan Mudah Membuat Read More
Semar Bingung's Weblog: Cara Cepat Dan Mudah Membuat Read More: Setelah dibuat pusing oleh masalah yang berkaitan dengan bagaimana cara membuat ‘Read more »’ atau ‘Baca selengkapnya »’ pada konten blog...
Selasa, 03 Januari 2012
Rabu, 28 Desember 2011
Dia Mencium Bau Surga
Di dalam sebuah hadits yang bersumber dari Abu
Hurairah rhodiyallaahu ‘anhu, Rasululllah shollallaahu ‘alaihi wasallam
pernah bersabda, " Ada tujuh golongan orang yang mendapat naungan
Allah pada hari tiada naungan selain dari naunganNya... diantaranya,
seorang pemuda yang tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah."
Dan di dalam sebuah hadits shohih yang berasal dari Anas bin an-Nadhr
rhodiyallaahu ‘anhu, ketika perang Uhud ia berkata,"Wah .... angin
surga, sunguh aku telah mencium wangi surga yang berasal dari balik
gunung Uhud."
Seorang Doktor bercerita
kepadaku, " Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa
ada seorang pasien dalam keadaaan kritis sedang dirawat. Ketika aku
sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang pemuda yang sudah
meninggal - semoga Allah merahmatinya -. Lantas bagaimana detail kisah
wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun
bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir
hidupnya?
Pemuda ini terkena peluru nyasar,
dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas segala kebaikan
mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah
perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara.
Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit dan mengerang sakit?
Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah ia marah dan
jengkel ? Atau apa?
Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, ‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal ... tenanglah ... sesungguhnya aku mencium wangi surga.!' Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena sekarang aku mencium wangi surga.'
Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka, ‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal ... tenanglah ... sesungguhnya aku mencium wangi surga.!' Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan para dokter yang sedang merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya, ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, maka janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena sekarang aku mencium wangi surga.'
Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium
keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia
mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat
syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar
rasulullah' Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta subhanahu wa ta'ala.
Allahu Akbar ... apa yang harus aku katakan dan apa yang harus aku
komentari...Semua kalimat tidak mampu terucap ... dan pena telah kering
di tangan... Aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat
Firman Allah subhanahu wa ta'ala, " Allah meneguhkan (iman) orang-orang
yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan
akhirat." (Ibrahim : 27)
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.
Ia melanjutkan kisahnya,
"Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya' di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.
"Mereka membawa jenazah pemuda tersebut untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara Dhiya' di tempat pemandian mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesudah shalat Magrib pada hari yang sama.
- Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullaah Shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda, "Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat". Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.
- Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Pada tubuh orang yang sudah meninggal itu (biasanya-red) dingin, kering dan kaku.
- Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.
Subhanalllah
... Sungguh indah kematian seperti itu. Kita memohon semoga Allah
subhanahu wa ta'ala menganugrahkan kita khusnul khatimah.
Saudara-saudara tercinta ... kisah belum selesai...
Saudara-saudara tercinta ... kisah belum selesai...
Saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabnya?
Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya?
Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul khatimah (insyaAllah -red) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-ngidamkann ya; meninggal dengan mencium wangi surga.
Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia dapatkan husnul khatimah (insyaAllah -red) yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-ngidamkann ya; meninggal dengan mencium wangi surga.
Ayahnya berkata,
"Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga
membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat
Shubuh berjama'ah. Ia gemar menghafal al-Qur'an dan termasuk salah
seorang siswa yang berprestasi di SMU."
Aku katakan, "Maha benar Allah" yang berfirman (yang artinya-red)
"Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: ‘Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka
(dengan mengatakan): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa
sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah
dijanjikan Allah kepadamu.' Kamilah pelindungmu dalam kehidupan dunia
dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan
memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan
(bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(Fhushilat:30- 32)
--------
Diambil dari : Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir.
Diambil dari : Serial Kisah Teladan Karya Muhammad bin Shalih Al-Qahthani, sebagaimana yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir.
Mu'min Rindu Kampung Halaman Sejati
Mu'min Rindu Kampung Halaman Sejati
Tahukah saudara bahwa ketika seorang Mu’min telah lulus menyelesaikan segenap rangkaian pemeriksaan atas dirinya di yaumul hisab (hari perhitungan amal), maka barulah ia diizinkan Allah memasuki Al-Jannah (surga), negeri keabadian penuh kebahagiaan hakiki? Ia tidak diizinkan memasuki surga bilamana terbukti ia masih mempunyai permasalahan dengan sesama manusia, walaupun dengan Allah Ta’aala ia tidak lagi punya masalah apa-apa. Segenap dosanya yang bersifat hablun minallah telah diampuni Allah Ta’aala. Namun karena ia masih memiliki masalah hablun minannaas dengan sesama manusia, maka ia ditahan di suatu tempat dekat sekali dari baabul-jannah (pintu surga) guna menyelesaikan berbagai perkara (melakukan rekonsiliasi) dengan sesama manusia.
Dalam hal ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkannya sebagai berikut:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَيَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَيَوْمَ
الْقِيَامَةِ مِنْ النَّارِفَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍبَيْنَ
الْجَنَّةِ وَالنَّارِفَيُقْتَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْبَعْضٍ
مَظَالِمُكَانَتْ بَيْنَهُمْفِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَاهُذِّبُوا
وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْفِي دُخُولِ الْجَنَّةِفَوَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِلَأَحَدُهُمْ أَهْدَى لِمَنْزِلِهِفِي الْجَنَّةِ مِنْهُ
بِمَنْزِلِهِكَانَ فِي الدُّنْيَا
Dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang-orang yang beriman pada
hari Kiamat selamat dari neraka, lalu mereka ditahan di jembatan antara
surga dan neraka, lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain
karena kezhaliman mereka waktu di dunia, sehingga setelah mereka
dibersihkan dan telah suci, maka barulah mereka
diizinkan memasuki surga. Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya,
seseorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada
rumahnya di dunia." (HR. Ahmad No. 10673)Dalam hadits di atas Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggunakan istilah "ditahan di jembatan antara surga dan neraka" untuk menggambarkan masih menggantungnya masalah orang-orang beriman yang belum berhak masuk surga karena masih adanya problema antara dirinya dengan manusia lainnya yang pernah ia zalimi. Perbuatan menzalimi manusia lain merupakan perbuatan tercela yang sangat dibenci Allah Ta’aala. Dalam sebuah hadits Qudsi dikatakan sebagai berikut:
إِنِّي حَرَّمْتُ عَلَى نَفْسِيالظُّلْمَ وَعَلَى عِبَادِيأَلَا فَلَا تَظَالَمُوا
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa Allah berfirman,
“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas
diri-Ku dan Aku mengharamkannya pula atas kalian, maka janganlah kalian
saling menzalimi.” (HR. Ahmad No. 20451)Surga merupakan tempat yang hanya berhak dimasuki oleh hamba-hamba Allah Ta’aala yang benar-benar telah bersih dari segenap dosa, baik dosa kepada Allah Ta’aala maupun dosa kepada sesama hamba Allah. Oleh karenanya, seorang muslim senantiasa mendambakan dan mengharapkan ampunan Allah Ta’aala sebab ia tahu bahwa jika dirinya masih mempunyai dosa niscaya ia tidak berhak memasuki surga. Dan oleh karenanya seorang muslim sangat khawatir bila dirinya terlibat dalam sebuah perbuatan menzalimi manusia lain, sebab ia tahu bahwa mengharapkan maaf dari sesama manusia seringkali lebih sulit daripada mengharapkan ampunan Allah Ta’aala yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Maka di dalam hadits di atas Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan “...lalu sebagian akan diqishas atas sebagian yang lain karena kezhaliman mereka waktu di dunia...” dan ini merupakan suatu keharusan agar si muslim yang sempat berlaku zalim dapat menjadi bersih dari dosa tersebut sehingga layak memasuki surga. Sebab surga hanya menerima mereka yang bersih dan suka membersihkan diri. Oleh karenanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selanjutnya berkata, “...maka barulah mereka diizinkan memasuki surga.”
Lalu terakhir Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan bahwa “Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, seseorang di antara mereka lebih mengetahui rumahnya di surga dari pada rumahnya di dunia." Si mukmin kemudian berhak memasuki surga Allah Ta’aala dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan bahwa ketika si mukmin menginjakkan kakinya ke dalam surga tiba-tiba kakinya membawa tubuhnya melangkah menuju kediamannya di surga lebih mengetahui, mantap dan yakin daripada ia melangkahkan kakinya pulang ke rumahnya sewaktu hidup di dunia. Subhanallah...
Jadi, saudaraku, surga memang benar-benar kampung halaman sejati orang-orang beriman. Sebab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sampai perlu bersumpah demi Allah Ta’aala Dzat yang jiwanya berada di dalam genggamanNya, ketika menggambarkan hal tersebut. Sewaktu di dunia seseorang setelah pulang dari dinas luar kota tentu sangat rindu pulang ke rumahnya agar berkumpul dengan anak dan istrinya. Boleh jadi kerinduannya sedemikian rupa malah menyebabkan dirinya sampai kehilangan arah alias tersesat pulang ke rumahnya sendiri. Hal ini tidak bakal terjadi ketika seorang mu’min memasuki pintu surga lalu melangkahkan kakinya menuju rumah sejatinya, kampung halaman sejatinya.
Sungguh bahagianya bila seseorang dapat memasuki pintu surga lalu berkumpul kembali bersama keluarganya dan anak-keturunannya di kampung halaman sejati orang-orang beriman.
Allah Ta’aala berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim:
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْذُرِّيَّتُهُمْ
بِإِيمَانٍأَلْحَقْنَا بِهِمْذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ
مِنْعَمَلِهِمْمِنْ شَيْءٍكُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka
mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan anak cucu mereka dengan
mereka (di dalam surga), dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari
pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang
dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur [52] : 21).Allah Ta’aala berfirman di dalam Kitabullah Al-Qur’anul Karim:
وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ
لِلْمُتَّقِينَغَيْرَبَعِيدٍهَذَا مَا تُوعَدُونَلِكُلِّ
أَوَّابٍحَفِيظٍمَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَبِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ
مُنِيبٍادْخُلُوهَا بِسَلامٍذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ
Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada
tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu,
(yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi
memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut
kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan
dia datang dengan hati yang bertobat, masukilah surga itu dengan aman,
itulah hari kekekalan. (QS. Qaaf [50] : 32-34 )Ya Allah, masukkanlah kami beserta keluarga dan anak-cucu kami ke dalam RahmatMu dan SurgaMu.
Sumber : http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/mu-min-rindu-kampung-halaman-sejati.htm
Rezeki Mata Uji Madrasah Kehidupan
dakwatuna.com
– Rezeki dalam kehidupan manusia persis seperti air hujan terhadap
tanaman. Ketika curah hujan cukup, tanaman pun kian menghijau, berbunga,
dan akhirnya menghasilkan buah. Bedanya dengan tanaman, manusia
mestinya tak perlu layu ketika rezeki tak kunjung turun.Namun, sifat manusia memang selalu tergesa-gesa. Kala rezeki tak menetes dari langit, tak sedikit orang berpikiran pendek. Frustasi. Dan memilih layu dan gugur tanpa arti. Media massa pernah mengabarkan seorang ibu dengan menggendong balita menceburkan diri ke air danau berkedalaman puluhan meter.
Media juga mencatat seorang ibu membakar diri karena bingung tak lagi punya uang untuk makan. Ia hangus terbakar bersama dua balitanya yang sedang sakit. Na’udzubillah.
Rasa lapar kadang membuat manusia kehilangan akal sehat. Hilang akal hilang martabat. Media pernah memberitakan seorang suami tega “menyewakan” isterinya ke lelaki lain lantaran tak punya uang untuk mengontrak toko. Na’udzubillah.
Masih banyak lagi kisah getir sejenis diungkap media massa. Mempertontonkan keputusasaan manusia. Keputusasaan itu berpangkal pada himpitan ekonomi.
Sedihnya, sebagian besar mereka muslim. Entah apakah mereka pernah sempat mendengar di tempat pengajian bahwa urusan rezeki sangat berkait dengan keimanan seseorang. Rezeki, selain sebagai anugerah, juga sarana ujian: seberapa tinggi mutu keimanan seorang hamba Allah ketika ia mendapati takaran rezekinya.
Memang, tidak semua sisi yang berhubungan dengan rezeki menjadi urusan pribadi. Makmur tidaknya seorang anak manusia, boleh jadi, sangat berkait dengan kebijakan pemerintahnya. Penyediaan lapangan kerja, pemberian subsidi buat bahan pokok, kemudahan pinjaman modal; adalah di antara bentuk kebijakan yang sangat berpengaruh buat kemakmuran warga sebuah bangsa.
Namun, ketika kenyataan tidak seperti yang diinginkan, semua kembali pada kekuatan pribadi masing-masing. Dan salah satu kunci kekuatan adalah benteng keimanan. Inilah yang akhirnya sangat menentukan apakah seorang hamba Allah bisa tahan dengan problem rezeki.
Ada beberapa lubang kesalahpahaman soal rezeki yang kerap menjebloskan seseorang ke dalam kubangan kehinaan. Dan lubang-lubang itu terus berubah bergantung pada siapa yang akan jadi target. Pertama, anggapan bahwa rezeki sebagai kunci segala masalah. Inilah yang akhirnya menjadikan seseorang mengalami pergeseran tujuan hidup. Karena rezeki jadi sumber solusi, rezeki pun menjadi tujuan. Bukan lagi sekadar sarana yang boleh ada, boleh tidak.
Orang yang terjeblos pada anggapan ini, akan menghalalkan segala cara. Apa pun ia tempuh asal bisa dapat banyak rezeki. Dan jika akhirnya rezeki luput, ia akan putus asa. Baginya, kehidupan tak lagi punya arti tanpa rezeki. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al-Hadiid: 23)
Dalam cakupan yang lebih besar, pengalaman membuktikan bahwa kejatuhan seorang muslim -termasuk pada dai dan ulama– karena mereka terjeblos pada lubang jenis ini. Mereka pun dipermainkan kepentingan materi. Ada yang saling bermusuhan, ada yang rela menjadi kacung-kacung kekuasaan (misalnya Bal’am, seorang ulama Bani Israil yang menyangga kekuasan Fir’aun). Mereka rela melakukan apa pun asal tetap dapat rezeki. Na’udzubillah.
Kedua, anggapan rezeki berbanding lurus dengan tingkat ketakwaan seseorang kepada Allah swt. Anggapan ini yang di antaranya menjadi sebab tergelincirnya hamba-hamba Allah dari keikhlasan. Bahkan mungkin, bisa berubah menjadi kufur.
Tidak semua bentuk kasih sayang Allah swt. terlimpah langsung di kehidupan dunia. Bahkan boleh jadi, pengecilan takaran rezeki buat seseorang adalah di antara bentuk kasih sayang Allah terhadap orang itu. Karena tidak tertutup kemungkinan, orang justru jadi tidak lagi taat ketika rezekinya berlimpah.
Hal itulah yang pernah dialami salah seorang pengikut sekaligus keluarga dekat Nabi Musa a.s., Qarun. Ketika pintu rezeki terbuka lebar, ia justru berubah kufur. “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa (anak paman Nabi Musa), maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Al-Qashash: 76)
Kalau rezeki berbanding lurus dengan tingkat taat dan takwa, tentu orang yang paling kaya di seluruh penjuru dunia adalah para Rasul, sahabat, dan orang-orang saleh. Tapi, fakta sejarah tidak mengatakan itu. Sebaliknya, merekalah yang selalu berlimut sederhana. Bahkan, Rasulullah saw. pernah berpuasa setelah mendapatkan kabar dari isterinya kalau isi dapur memang benar-benar kosong.
Rezeki adalah salah satu di antara sekian mata pelajaran yang Allah ujikan dalam madrasah dunia ini. Banyak rezeki ujian, begitu pun ketika sedikit. Jangan sampai kita tidak pernah lulus di dunia keadaan itu. Banyaknya menjadi boros dan sombong, sedikitnya menjadi putus asa dan kufur.
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/rezeki-mata-uji-madrasah-kehidupan/
Langganan:
Postingan (Atom)
