Jumat, 15 April 2011
ORANG TUA DAN BUAH HATI (kenakalan remaja)
Anak adalah buah hati dan merupakan aset bagi suatu Negara untuk meneruskan perjuangan bangsa, tak terkecuali dengan anak di Negara kita tercinta Indonesia.Ada sebuah ungkapan yang sering sekali terdengar oleh kita di masyarakat “pelajar jaman sekarang banyak yang pandai dan cerdas namun sayang akhlaqnya tak mencerminkan pribadi yang baik, bagaimana nasib Negara kita kalau generasinya seperti itu?”. Kenapa pernyataan dan pertanyaan macam ini bisa ada di masyarakat kita? Ya, masalahnya adalah tingginya angka kenakalan remaja yang sering terekspose oleh media – media atau secara terang – terangan nampak dimata masyarakat. Apa contoh dari kenakalan – kenakalan itu? Banyak sekali contoh maslah kenakalan remaja jaman sekarang yang sudah bukan menjadi rahasia, bisa dicontohkan banyak pelajar merokok seenaknya, bergaul dengan miras, kebut – kebutan, mengkoleksi hingga transaksi fiilm porno dan menontonnya bersama - sama, pacaran yang tak sewajarnya hingga terjadi hamil diluar nikah, bergumul dengan narkoba dan judi. Semua itu yang mengakibatkan akhlak mereka boborok! Apa dampaknya bagi kehidupan mereka sebagai pelajar? Mereka semakin merasa berani dan tak malu melakukan kenakalan – kenakalan karena mereka merasa tidak melakukan sendiri. Akibatnya mereka semakin berani berbohong kepada oang tua ataupun guru dan terkadang berani membantah perintah mereka.
Sebelum kita membahas semakin jauh tentang kenakalan remaja perlu kita bercerim dulu terhadap diri kita masing – masing sebagai orang tua dan pengajar yang mengawasi dan membimbing anak – anak penerus perjuangan Bangsa ini. Kenakalan pada anak dan remaja tidak sepenuhnya adalah kesalahan dari anak itu sendiri, namun juga tak lepas dari peran serta orang tua dan pendidik yang harus bertanggung jawab terhadap pembentukan sifat dan sikap beserta akhlaq yang melekat pada pribadi anak dan remaja. Apa yang salah dari diri kita sebagai orang tua dan pendidik? Pertanyaan ini yang akan muncul. Ya, kita sebagai orang tua terkadang melupakan apa yang namanya pembentukan karakter dan pribadi anak – anak kita, kita sering lalai dengan hal – hal semacam itu yang berakibat mereka mencari dan mencoba membentuk karakter diri mereka sendiri dari pergaulan – pergaulan yang mereka sering jumpai baik dari tayangan – tayangan televisi atau keadaan sekitar kita sendiri yang belum tentu baik namun terkadang membuat mereka nyaman. Sebagai orang tua modern terkadang kita juga sering memanjakan anak – anak kita dan membebaskannya dari kewajiban – kewajiban yang harus mereka lakukan diluar sekolah seperti membantu orang tua dan beribadah, dan kebanyakan juga orang tua modern pada jaman sekarang hanya menuntut anaknya untuk belajar menjadi pandai namun tidak mau mengawasi perkembangan anak. Kenapa demikian? Ada sebuah anggapan “jaman sudah maju dan modern kita tidak perlu susah – susah dalam mendidik anak bisa les privat kan?” apa yanganak butuh kita turuti demi kemauan belajarnya. Namun terkadang kita terlalu over dalam menuruti kemauan anak hingga anak kurang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kewajibannya.
Kembali kepada kenakalan remaja, menurut penelitian dan wawancara terhadap beberapa narasumber kenkalan remaja sering terjadi karena kurangnya perhatian dan rasa penasaran yang tinggi serta mudahnya akses atau tempat untuk melampiaskan keingintahuan mereka terhadap suatu hal yang terkadang tabu untuk anak usia sekolah.
- Kurangnya perhatian orang tua.
Ini adalah faktor terpenting, kebanyakan orang tua modern saat ini hanya berfikir bekerja – dan bekerja baik sang ayah ataupun sang ibu bersama - sama mengumpulkan harta untuk keluarga, biar makan tak kekurangan, rumah yang layak, anak bisa sekolah, bisa les privat, punya kendraan pribadi meski semua toh terpaksa kredit. Padahal secara moral kemewahan itu belum dimengerti anak – anak usia sekolah mereka membutuhkan keseimbangan antara tuntutan belajar dan kasih sayang orang tua. Suatu contoh dan perbandingan antara anak yang kedua orang tuanya sebagai pekerja (pebisnis,pegawai) khususnya kaum ibu yang sering berada di luar rumah dan anak yang memiliki orang tua yang ayahnya bekerja dan ibunya berada dirumah (baik ibu rumah tangga, wirausaha) dari anak – anak mereka Nampak sekali perbedaan yang sangat nyata. Ini adalah contoh kecil :
- Dari orang tua yang keduanya bekerja diluar rumah
Saat pagi anak bangun dan melihat orang tuanya sibuk dengan persiapan berangkat kerja masing – masing terkadang sampai tak sempat membuatkan sarapan anak dan keluarga dan memaksa anak untuk jajan diluar dengan tambahan uang saku. Ini yang membuat anak kecewa karena jarang sekali merasakan kasih sayang melalui masakan ibunya, namun sekaligus merasa senang karena uang jajannya bertambah bisa buat beli jajan dan pulsa sekaligus rokok (makan gak penting, anak jaman sekarang). Tidak berhenti disitu ketika anak pulang dari sekolah anak belum mendapati satu orang tuapun yang berada dirumah ya meski kadang ada pembantu, hal ini yang membuat anak merasa bebas, ya lepas gak da yang awasi untuk beberapa waktu sampai lupa akan kewajiban ibadahnya alasanya lupa karena gak ada yang mengingatkan (namanya anak wajar khan pengen diingatkan) dari situ saja terlihat karakter anak yang terbentuk kurang baik.
- Dari orang tua yang ayahnya bekerja dan ibunya lebih banyak dirumah
Saat anak bangun melihat ibunya memasak untuk keluarga anak berfikir ibu sayang sama keluarga pagi – pagi sudah buat sarapan, ketika berangkat sekolah sang ibu tersenyum melihat anaknya berangkat sang anak meras mempunyai tanggung jawab guna membanggakan orang tua karena senyum yang diberikan ibu mempunyai kekuatan sayang yang hebat, sampai – sampai lupa sang anak tak bawa uang saku karena sudah sarapan jadi uang saku tak jadi masalah yang penting perut sudah terisi belajar bisa tenang. Ini yang terkadang membuat anak membatasi diri dai jajan sembarangan. Dan belum selesai sampai disitu, ketika pulang sekolah anak melihat ibunya dirumah memberi salam dan mendapatkan jatah makan siang sembari diingatkan tentang kewajiban ibadah. Dari sini anak terbentuk untuk bertanggung jawab kepada agamanya. Dan dari situ anak bisa menghargai perjuangan orang tuanya.
- Rasa ingin tahu yang besar.
Wajarlah anak mempunyai rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap sesuatu hal. Karena dari rasa keingintahuan ini anak bisa aktiv mencari tahu dan bertanya kepada pengajar dan orang tua. Namun terkadang bila dari jawaban pengajar dan orang tua belum memuaskan hati si anak mereka terkadang mencari tempat mencari jawaban atas rasa penasaran itu contonhnya : datang ke perpustakaan dengan membaca atau berselancar lewat internet (jaman sudah modern sekarang akses internet mudah dan murah). Namun kebanyakan anak sekarang karena terlalu cerdas dan tidak mudah puas dengan jawaban pengajar atau orang tua (tidak tahu gurunya kurang pandai atau orang tua yang tidak paham) anak cenderung langsung browsing lewat internet dibanding pergi keperpustakaan (alasanya lebih cepat dan simple). Dari sini anak mempunyai kebiasaan baru dan mungkin menjadi hobi berselancar lewat internet untuk mencari hal – hal yang menjadi penasaran di fikiran mereka hingga hal – hal yang seharusnya tak terjamah mereka. Dari sini anak cenderung kecanduan hal – hal yang aneh dan menyimpang karena mudahnya mereka memuakan jawaban dari rasa penasaran dengan ber internet ria. Peran serta orang tua dan pengajar disini adalah dituntut untuk lebih sering membaca dan mau belajar teknologi sehingga tidak tertinggal oleh generasi anak dan kita sendri bisa mengawasi anak saat berselancar di dunia maya dan hal ini bisa menimbulkan kebanggan tersendiri kepada anak karena mempunyai guru dan orang tua yang melek teknologi dan secara tidak langsung membatasi ruang gerak mereka sesuai batasan apa yang seharusnya mereka cari.
- Mudahnya melampiaskan rasa penasaran.
Sebagai seorang anak mempunyai rasa penasaran sangat besar itu wajar, terkadang setelah rasa penasaran terjawab anak cenderung ingin mencoba hal – hal yang menjadi awal keingintahuannya itu sangat normal karena sebagai anak yang dituntut belajar anak juga harus mampu dalam hal praktikum. Namun disini tidak membahas tentang praktikum sekolah. Contoh baiknya anak penasaran tentang otomotif anak mencari di internet kemudian sering nongkrong dibengkel sembari belajar gratis tentang otomotif (disini terbatas pada motor) anak bisa dan mampu karena sudah terbiasa melihat dan mencoba dalam hal ini, namun anak terkadang tidak puas dengan hal yang dicapainya contoh buruknya anak sering menjajal kecepatan motornya karena selalu melihat motor orang yang lebih cepat dari miliknya, anak merasa ingin memperbaiki lagi motornya sehingga anak terus menerus fokus pada motornya dan terkadang lupa pada kewajiban belajar dan beribadah. Sebgai orang tua terkadang kita juga merasa bangga karena anak kita mampu namun kita juga harus terus memantau perkembangannya di sekolah dan selalu mengingatkan kewajiban beribadah sehingga anak tidak terlalu melampaui batasan dan meninggalkan kewajiban lainnya demi hobi dan rasa penasarannya.
Dari uraian di atas penulis ingin menyampaikan bahwa peran serta orang tua dan pendidik (guru sekolah, guru ngaji, guru privat) sangatlah penting bagi pembentukan karakter dan akhlak anak. Bukan hanya itu curahan kasih sayang dari orang tua juga menjadi faktor utama yang mempengaruhi pembentukan sifat, keperibadian dan akhlak anak. Dan kasih sayang orang tua itu bukan hanya dari harta dan kemewahan namun juga perhatian, senyuman, kounikasi yang baik kepada anak.
Demikian penulis memberikan sebuah wacana, bila dalam penulisan terdapat kata yang salah dan kurang dimengerti, itu tak luput dari kekurangan penulis yang perlu belajar lagi. Penulisan ini didasarkan pada pengalaman pribadi dan pemngamatan terhadap lingkungan secara tidak sengaja dan dari rasa keprihatinan tersendiri dari penulis.
Terima kasih….
10 Kepribadian Wanita Yang Dicari Pria
Wanita adalah makhluk Tuhan yang syarat akan keindahannya. Setiap pria normal pasti tertarik dan mendambakan wanita yang cantik dan bertubuh ideal (seksi) untuk menjadi pasangannya. Namun ternyata bukan kecantikan dan bentuk tubuh yang ideal (seksi) saja yang disukai pria terhadap wanita. Sebenarnya banyak faktor di dalam keperibadian wanita yang dicari pria untuk dipilih dan diseleksi guna mendapatkan gambaran pasangan yang cocok untuk menjadi istri.
Selain penampilan fisik yang dimiliki, apa saja sih faktor keperibadian yang dicari seorang pria terhadap wanita dambaannya?
1. Agamanya
2. Kesehatan jasmani
3. Kesehatan rohani
4. Tutur bahasa yang lembut
5. Prilaku yang sopan dan ramah
6. Hubungan baik dengan keluarganya
7. Pergaualan dengan masyarakat
8. Pendidikan
9. Pekerjaannya
10K Kepandaiannya dalam urusan dapur
Sebenarnya masih banyak faktor lagi namun 10 faktor diatas mungkin adalah sebagian besar yang dicari pria terhadap kepribadian wanita yang didambakannya untuk menjadi pasangan hidup yang smpurna.
Saya akan menjelaskan satu persatu dari 10 hal diatas untuk membantu memahaminya.
1. AGAMA
Seorang pria normal pasti juga menginginkan pasangan yang seiman dengannya. Pria yang pandai dan cerdas pastinya menginginkan wanita yang pandai dan cerdas pula, termasuk dalam urusan agama. Seorang wanita yang baik bisa dilihat dari ketaatanya pada agama yang dipeluknya apakah dia seorang wanita yang beragama dengan baik atau beragama dengan identitas KTP saja? Apa yang diharap dari pria terhadap wanita yang taat pada agamanya?
a. Berharap memiliki pasangan yang mententramkan hati.
b. Berharap memiliki pasangan yang bisa menjaga martabat keluarga.
c. Berharap memiliki pasangan yang bisa mengajarkan agamanya pada anak – anaknya.
d. Berharap memiliki pasangan yang bisa membawa jalan menuju surga.
2. SEHAT JASMANI
Pria pasti inginkan memiliki pasangan yang sehat secara jasmani, karena apa? Tentu saja kalian tahu jawabanya. Kesehatan jasmani menjadi faktor penting karena dari sisi ini akan bisa membawakan kelanjutankepada keturunan – keturunan setelahnya. Pria yang mengeti pasti mimilih wanita yang sehat jasmaninya berharap keturunan mereka juga menjadi keturunan yang baik pula. Apa yang dimaksud sehat secara jasmani? Kesehatan jasmani adalah kesehatan tubuh secara utuh dan tidak mempunyai gangguan fisik baik secara kasat mata atau organ dalam yang bisa mengganngu aktivitas sehari – hari dan berpengaruh pada keturunan. Misalnya memiliki penyakit turunan.
3. SEHAT ROHANI
Pasti semua pria menginginkan punya pasangan yang sehat rohaninya pula kan? Siapa yang ingin punya pasangan yang berkepribadian ganda (gangguan kejiwaan). Secara normal saja semua sudah memahaminya. Harapannya adalah agar saat terjalin sebuah hubungan akan menjadi hubungan yang serasi dan selaras. Berkepentingan dalam hal menjaga hubungan keluarga dan bermasyarakat.
4. KELEMBUTAN BAHASA
Wanita yang bertutur kata lembut adalah sosok wanita idaman pria, kelembutan bahasa bukan berarti kelemahan. Kelembutan bahasa adalah kekuatan yang mampu meluluhkan hati dan menjaga keharmonisan hubungan karena bahasa yang terkandung didalamnya adalah bahasa kasih dan sayang.
5. PRILAKU
Perilaku atau tingkah laku atau sikap seorang wanita menjadi sorotan pria dimana pria cenderung ingin memiliki wanita yang berprilaku baik. Maksudnya bisa menjaga dan menata prilakunya menyesuaikan dengan tempat dan keadaan yang ada. Pria ingin pasangannya bisa membawa nama baik keluarganya dengan wanita yang mempunyai prilaku yang baik pula. Tidak memalukan saat didepan pasangannya, keluarga, dan pergaulanya. Itu menjadi kunci penting dalam keharmonisan keluarga.
6. HUBUNGAN KELUARGANYA
Prilaku wanita terkadang tercemin dari keadaan keluarganya, bagaimana keadaan didalam keluarga yang cenderung manjadi pembentuk keperibadian seorang wanita. Bilamana keluarganya dari keluarga yang kurang harmonis biasanya wanita yang berasal dari keluarga seperti ini mempunyai prilaku yang brutal atau pendiam, dimana kebrutalanya dikarenakan beban mental dari keadaan keluarga sehingga melarikan dirinya pada hal – hal yang bisa membuat dirinya have and fun apapun bentuknya, dan bila dia pendiam mungkin karena tak bernyali untuk melepaskan emosinya dan cenderung menyimpannya sehingga berakibat tekanan pada kebatinannya. Hal semacam ini yang ditakutkan pria karena akan berpengaruh juga pada masa depan keluarganya kelak.
Bilamana wanita yang berasal dari keluarga yang harmonis dan penuh dengan kasih sayang biasanya memiliki keperibadian yang terjaga dengan baik dan tidak mengecewakan karena kelak saat berumah tangga berharap bisa membentuk keluarga yang harmonis juga.
7. PERGAULAN
Wanita harus pandai dalam pergaulan luwes dalam membina hubungan dengan masyarakat luas. Namun wanita harus pandai memilih dan memilah pergaualannya biar tidak di cap sebagai wanita nakal meski nyatanya gak nakal. Pria ingin wanita yang pandai bergaul agar bisa menyatu dengan masyarakat guna membangun ikatan kerukunan antar sesama warga. Namun pria juga tidak ingin pasangannya mempunyai pergaulan yang terlalu bebas (Los) dalam artian tidak bisa menempatkan diri terhadap pergaulan yang baik dan sehat sehingga merusak pandangan masyarakat terhadap keluarganya.
8. PENDIDIKAN
Wanita yang berpendidikan tinggi itu sangat mahal diamata pria namun itu juga sangat diminati pria kareana dengan itu wanita yang berpendidikan tinggi dianggap mampu dengan baik dalam hal komunikasi dan bekerjasama dalam mengelola tatanan keluarga yang hebat, tujuannya : bisa memenejemen keuangan dengan baik karena bisa berfikir lebih teliti terhadap kebutuhan – kebutuhan yang memang penting, mudah memahami saat diajak berkomunikasi dan berunding psangannya, saat mempunyai anak bisa membantu dalam hal belajarnya. Ini hanya contoh kecilnya.
9. PEKERJAAN
Bukan masalah gaji (pendapatan). Pria tidak suka bila pasangannya bekerja ditempat – tempat yang menuntut pekerja (karyawati khususnya) untuk melakukan keja lembur atau melebihi batasan kerja secara normal (8jam). Dan tak jarang pula terkadang pria tidak suka pasangannya bekerja pada perusahaan yang mewajibkan karyawanya mengenakan pakaian seksi dan mini seta berdandan menor. Kenapa demikian? Untuk urusan kerja lembur, pria ingin setiap pulang kerja melihat pasangannya berada dirumah dan menyuguhkan senyum yang hangat beserta teh atau minuman kesukaanya kalau ada. Yang kedua masalah pakaian kerja yang seksi dan mini serta dandanan menor, pria mana yang rela keindahan tubuh paangannya dilihat banyak pria yang bukan pasangannya? Pria berfikir secara logika bahwa bila ada wanita cantik yang berbusana mini dan seksi siapa yang gak ingin menggodanya? Relakah bila wanita pasangan hidup kita digoda pria lain? Tidak kan!
10. URUSAN DAPUR
Wanita dituntut pandai dalam urusan dapur (memasak utamannya) pria akan bangga memiliki pasangan yang pandai memasak karena dari masakan itu sendiri mempunyai arti perjuangan dan kasih sayang untuk pria dan itu yang membuat pria betah makan dirumah menikmati masakan sang istri dari pada jajan di luar.
Dari tulisan di atas semoga pembaca bisa dengan mudah memahaminya dan memetik hikmah atau pelajaran yang terkandung didalamnya, penulisan arikel ini pastinya jauh dari tingkat kesempurnaan maka dari itu selaku penulis yang tak lain hanyalah manusia bisa saya ucapkan terimakasih sebesarnya atas waktunya menyempatkan untuk membaca artikel ini dan mohon maaf bila terjadi kesalahan penulisan atau pemaknaan yang terkandung didalamnya.
Terimakaih.
Senin, 11 April 2011
Mendekatkan Diri Kepada Allah
Bagi setiap muslim, apalagi dai, berkewajiban untuk mendekatkan diri kepada Allah agar meraih kecintaan-Nya. Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan: “Pendekatan diri hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah dengan sesuatu yang Aku wajibkan padanya. Dan jika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan nafilah (ibadah tambahan), sehingga Aku mencintainya.” (Bukhari)
Dalam hadits ini menunjukkan bahwa ibadah yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah melaksanakan kewajiban. Kewajiban terdiri dari Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah. Fardhu Ain yaitu kewajiban yang mengikat setiap individu muslim, seperti sholat lima waktu, zakat, puasa, haji jika mampu, berbakti kepada orang tua, memberi nafkah pada anak istri dan lain-lain. Sedangkan Fardhu Kifayah yaitu kewajiban kolektif jika sudah dilakukan oleh orang lain maka gugurlah kewajiban tersebut, seperti menyelenggarakan jenazah, menuntut sebagian ilmu tertentu, dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, berjihad dan lain-lain. Pada saat tertentu Fardhu Kifayah dapat berubah menjadi Fardhu Ain, seperti dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, dan jihad.
Fardhu adalah pokok sedangkan nafilah adalah cabang. Nafilah dapat melengkapi ibadah fardhu dan dapat menutupi kekurangannya. Seseorang tidak dapat disebut mengerjakan ibadah nafilah jika meninggalkan yang fardhu. Oleh karena itu jika orang beriman melaksanakan yang fardhu kemudian diteruskan dengan ibadah tambahan, maka Allah akan mencintainya. Sehingga sangat salah orang yang menyibukkan pada ibadah yang sunnah sementara meninggalkan yang wajib.
Jadi, secara umum pendekatan diri kepada Allah dilakukan dengan cara beribadah kepada Allah.
IBADAH
Ibnu Taimiyah berkata, ibadah adalah kata yang mencakup semua kebaikan, yaitu segala perkataan dan perbuatan baik lahir maupun batin yang diridhai dan dicintai Allah. Ibadah adalah risalah dan misi besar manusia. Hanya untuk inilah Allah menciptakan manusia dan jin (lihat Adz-Dzariyat: 56). Dan hanya untuk ini pula Allah mengutus para nabi dan rasul (lihat An-Nahl: 36). Rasulullah saw. bertanya pada Muadz bin Jabal, “Wahai Muadz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba-Nya dan hak hamba atas Allah?” Saya berkata, “Allah dan rasul-Nya yang paling tahu.” Rasul saw. bersabda, “Hak Allah atas hamba-Nya adalah beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya; dan hak hamba atas Allah adalah tidak mengadzab orang yang tidak menyekutukan Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Tetapi sangat disayangkan, jika kita melihat realitas manusia, mayoritas mereka musyrik atau menyekutukan Allah dengan mahluk-Nya. Bangsa-bangsa besar yang menempati bumi ini mayoritasnya musyrik kepada Allah, mayoritas manusia yang menempati benua Amerika, Eropa, Australia dan juga Asia adalah orang-orang yang mensyekutukan Allah. Sekitar 6 milyar penduduk dunia, hanya ¼ nya saja yang mengakui muslim. Dan umat Islam pun masih banyak yang belum menyembah Allah, minimal dengan menegakkan sholat. Melihat realitas ini, maka kewajiban yang paling utama bagi orang-orang beriman adalah berdakwah mengajak manusia agar beriman dan beribadah kepada Allah saja.
Orang-orang beriman yang mengenal Allah dengan sebenarnya, mengenal hakekat dirinya dan mengetahui risalahnya, maka akan melaksanakan ibadah seoptimal mungkin, tetapi pada saat yang sama mereka sangat takut pada Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Mu’minun: 57-61, “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati Karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.
SYARAT IBADAH
Dalam beribadah dan melakukan pendekatan diri kepada Allah, sangat terkait dengan syarat-syaratnya agar ibadahnya diterima. Dan syaratnya hanya dua yaitu ikhlas dan mengikuti sunnah Rasul saw. atau Syariah Islam. Inilah inti dari makna syahadat yang kita ucapkan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.” Berkata Fudhail bin Iyadh mengomentari surat Al-Mulk: 2, “Ahsanu ‘amala (Amal yang paling baik) adalah akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar).” Berkata, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima sehingga amal itu harus ikhlas dan benar.” Iyadh berkata, “Ikhlas dilakukan karena Allah Azza wa Jalla, dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.”
Ibadah yang dilakukan umat Islam harus selalu mengacu pada dua syarat tersebut; jika tidak, maka amalnya sia-sia bahkan dapat mengarah pada dosa. Rasul saw. bersabda, “Siapa yang mengada-ada pada urusan agama ini, sesuatu yang sebelumnya tidak ada, maka tertolak.” (Bukhari dan Muslim). Banyak sekali tradisi yang berkembang di tengah umat Islam, dan mereka melakukannya seolah-olah ibadah yang diajarkan Rasulullah saw. padahal tidak ada landasannya sama sekali. Di sinilah pentingnya para ulama dan para dai yang mengajarkan Islam kepada umatnya dengan penuh hikmah dan kesabaran, sehingga umat terhindar dari segala macam syirik, khurofat, takhayyul dan bid’ah.
HUKUM TAKLIFI
Dalam melaksanakan ibadah, para ulama usul menetapkan hukum taklifi yang mengikat bagi para mukallaf atau muslim yang sudah dewasa. Dengan memahami status hukum dalam setiap perbuatan, maka setiap muslim berada dalam kejelasan dalam setiap urusannya. Para ulama mendefinisikan hukum taklifi atau hukum yang terkait dengan perbuatan yang dilakukan setiap muslim yaitu arahan Syariah (khitab syari’i) yang terkait dengan perbuatan setiap muslim yang mukallaf (baligh), baik bersifat permintaan untuk melaksanakan, permintaan untuk meninggalkan maupun pilihan antara melaksanakan atau meninggalakan. Permintaan yang bersifat mengikat atau harus disebut wajib, sedangkan yang tidak mengikat disebut mandub atau sunnah. Sedangkan permintaan untuk meninggalkan yang bersifat harus disebut haram dan yang tidak bersifat harus disebut makruh. Adapun pilihan antara melaksanakan dan meninggalakan disebut mubah. Oleh karena itu hukum dalam Fiqih Islam terbagi menjadi lima, yaitu wajib, mandub, haram, makruh dan mubah.
Setiap muslim yang beriman pada hukum Islam dan memahami status hukum suatu perbuatan dapat mengetahui prioritas kerja atau amal yang harus dilakukan. Sehingga baginya segala sesuatu yang harus dilakukan dalam kehiduan dunia menjadi sangat jelas dan tegas. Tetapi manakala seorang muslim tidak memahami status hukum maka semuanya akan mejadi kabur dan samar, yang pada akhirnya dia akan mengalami kebingunagan dan kekacauan dalam hidupnya karena tidak ada arahan dan prioritas kerja yang harus dia lakukan dalam kehidupannya di dunia.
Wajib adalah suatu perintah Syariat yang harus dilakukan dan bersifat mengikat, jika ditinggalakan maka akan mendapat sanksi atau dosa dan jika dilaksanakan akan mendapat pahala atau balasan dari sisi Allah. Wajib terbagi menjadi dua; wajib aini, yaitu kewajiban yang mengikat atas setiap individu muslim, seperti shalat lima waktu, zakat, puasa, haji. Dan wajib kifayah, yaitu kewajiban yang mengikat atas sekelompok umat Islam.
Mandub adalah perintah Syariat yang sebaiknya dilaksanakan dan tidak bersifat mengikat, atau sesuatu yang jika dilaksanakan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak terkena sanksi. Mandub disebut juga sunnah, tatowwu’, mustahab, nafilah dan ihsan. Mandub memiliki beberapa tingkatan; Sunnah Muakkadah, yaitu sesuatu yang senantiasa dilakukan oleh Rasul saw. tetapi tidak sampai wajib, seperti sholat witir, sholat rawatib dan lain-lain. Sunnah ghairu Muakkadah, yaitu sunnah yang tidak selalu dilakukan oleh Rasul saw. seperti sedekah secara umum. Sunnah yang lain adalah mencontoh Rasul saw. pada masalah tradisi yang tidak terkait langsung dengan Syariat seperti makan, minum dan berpakaian ala Rasul saw.
Haram adalah perintah Syariat untuk meninggalkannya dan bersifat harus atau mengikat dan jika tidak maka akan mendapat sanksi atau dosa. Haram terbagi menjadi dua, yaitu haram li dzatihi dan haram li ghairihi. Haram li dzatihi diharamkan karena jelas-jelas menimbulkan bahaya langsung seperti makan bangkai, berzina, minum khomr, mencuri dll. Sedangkan haram li ghairihi, pengharamanannya karena tidak menimbulkan bahaya secara langsung seperti melihat aurat wanita, hukumnya tetap haram karena mengarahkan pada perzinahan. Haram li ghairihi disebabkan juga karena terkait dengan momentum atau kasus tertentu seperti berdagang saat adzan shalat Jum’at bagi lelaki, atau shalat bagi wanita yang haidh.
Haram Li Dzatihi dan Haram Li Ghairihi memiliki perbedaan pada dua hal, pertama pada transaksi atau akad. Haram li dzatihi membatalkan akad sedangkan haram li ghairihi tidak. Kedua, haram li dzatihi tidak dapat menjadi mubah kecuali karena darurat. Sedangkan haram li ghairihi menjadi mubah cukup karena hajat.
Makruh adalah perintah Syariat untuk meninggalkannya yang tidak harus atau mengikat. Apabila pekerjaan itu ditinggalkan maka akan mendapat imbalan pahala dan jika dilakukan tidak mendapatkan apa-apa.
Adapun mubah adalah pilihan Syariat untuk mengerjakan atau meninggalkannya. Mubah dapat diketahui dari tiga hal, yaitu jika melakukan atau meninggalkan tidak ada dampak sanksinya, nash tidak menunjukkan haram dan nash menunjukkan halal.
Namun demikian, seorang muslim yang baik berupaya untuk mengharap kebaikan dan pahala pada amal-amal yang mubah, yaitu dengan niat yang baik dan mengarahkan yang mubah untuk sarana taat pada Allah. Begitu juga dia berusaha meninggalkan sebagian yang mubah karena khawatir jatuh pada yang diharamkan.
KONDISI MUKALLAF (MUSLIM)
Setiap muslim yang mukallaf tidak terlepas dari 3 kondisi. Ketika muslim dalam kondisi mendapatkan ni’mat Allah, maka mereka harus bersyukur. Dalam kondisi mendapat ujian atau cobaan, mereka harus bersabar. Dan dalam kondisi berbuat dosa, mereka harus beristighfar dan bertaubat. Ketika ketiga pensikapan tersebut terus dilakukan oleh setiap muslim dalam menghadapi kondisinya, maka dia akan mendapatkan puncak kebahagiaan.
Bukankah setiap muslim hidup dalam limpahan nikmat Allah? Allah telah menciptakannya sebagai manusia, makhluk yang paling mulia. Kemudian diberinya rezeki yang baik-baik. Lahir ke dunia dalam kondisi tidak memiliki apa-apa, dan sekarang banyak mendapatkan fasilitas dari Allah. Selanjutnya Allah memberikan nikmat yang paling besar yaitu nikmat hidayah dan keimanan. Dengan nikmat itu setiap muslim dapat berjalan di muka bumi dengan arahan yang jelas. Inilah kondisi yang dialami setiap muslim, oleh karenannya mereka harus sentiasa bersyukur kepada Allah dengan sepenuh syukur. Mengakui bahwa seluruh nikmat datang dari Allah, mengungkapkannya lewat lisan dan membuktikannya dengan ketaatan dan pengabdian kepada Allah.
Kondisi kedua yang tidak akan lepas dari setiap muslim juga adalah ujian. “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Dalam ayat ini Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar ketika menghadapi ujian. Dan sejatinya setiap muslim akan mendapat ujian sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas.
Dan kondisi ketiga, yang tidal lepas dari setiap muslim adalah khilaf dan melakukan dosa. Inilah ciri khas manusia secara umum, karena mereka adalah anak-cucu Adam dan Hawa yang pernah melakukan dosa. Tetapi sebaik-baiknya orang yang melakukan dosa adalah beristighfar dan bertaubat. Dan diantara banyak bentuk istighfar ada tuannya istighfar atau Sayyidul Istighfaar, setiap muslim harus dapat menghafal dan membacanya secara rutin, ” Ya, Allah Engkaulah Rabbku tiada ilah kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku, aku adalah hamba-Mu, dan aku akan berusaha tetap komitmen dijalan-Mu sekuat tenagaku. Aku mengakui segala ni’mat-Mu padaku, dan aku mengakui dosaku, ampunilah aku. Karena tidak Dzat yang dapat mengampuni kecuali Engkau”.
Ketika muslim dan muslimah senatiasa dalam sikap seperti ini, niscaya mereka akan mendapatkan kebahagiaan, bukan hanya di dunia, tetapi di dunia dan akhirat. Semoga Allah memberikan istiqomah pada kita. Amin.
Ketahuilah, Maksiat Dapat Mengurangi Umur
Betulkah maksiat dapat mengurangi umur? Lalu apa hakikat kehidupan yang sebenarnya?
Betapa banyak orang yang bergelimang dalam maksiat. Ingin dagangannya laris, dia rela mengadu pada dukun atau melakukan pesugihan-pesugihan di tempat keramat. Atau ada juga yang menggantung jimat-jimat tertentu yang tidak jelas maksudnya, kadang berupa huruf hijaiyah yang tidak jelas apa maksud tulisan tersebut. Inilah manusia, hanya ingin meraih keuntungan dunia dan rela mengorbankan agamanya dengan berbuat syirik pada Allah. Ada pula yang ingin meraih keuntungan dalam usahanya dengan rela makan dari hasil riba, atau undian berhadiah yang maksudnya adalah judi, atau bentuk maksiat lainnya. Begitu pula tidak bosan-bosannya para pemuda berdua-duan (alias kholwat) yang ingin memadu kasih tanpa ada status nikah sama sekali. Itulah manusia tidak bosan-bosannya berbuat maksiat dan dosa. Padahal dosa dan maksiat memiliki dampak yang sangat besar sekali, di antaranya adalah pada umur. Berikut penjelasan dari Ibnul Qoyyim. Semoga bermanfaat.
Ketahuilah bahwa maksiat dapat mengurangi umur dan pasti dapat pula mengurangi keberkahannya, sebagaimana pula amalan kebaikan dapat menambah umur. Itulah perbuatan dosa dapat mengurangi umur.
Perlu diketahui bahwa para ulama sebenarnya berselisih pendapat dalam masalah ini. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan berkurangnya umur adalah hilangnya keberkahan umur. Ini memang benar dan inilah di antara dampak berbuat maksiat.
Ulama lainnya mengatakan bahwa berkurangnya umur adalah berkurangnya umur secara hakiki artinya umurnya betul-betul berkurang, sebagaimana rizki juga bisa berkurang.
Allah Ta’ala telah menjadikan berkah pada rizki karena berbagai sebab yang bisa menambah rizki tadi. Begitu pula keberkahan umur datang karena berbagai sebab yang bisa menambah keberkahan umur.
Para ulama mengatakan bahwa bertambah umur itu pasti terjadi karena sebab, begitu pula berkurangnya umur. Begitu pula rizki, ajal, kebahagiaan, kesengsaraan, sehat, sakit, kaya, miskin, walaupun itu semua terjadi dengan ketetapan Allah, tetapi pasti ketetapan Allah ini juga terjadi dengan adanya sebab.
Hakekat Kehidupan adalah Hidupnya Hati
Para ulama lain mengatakan bahwa dampak maksiat dapat menghilangkan keberkahan umur karena hakekat kehidupan adalah hidupnya hati. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyebut orang kafir dengan sebutan mayit karena memang mereka adalah orang yang mati hatinya. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah (yang artinya), “Mereka (orang kafir) bukanlah orang yang hidup.” (QS. An Nahl: 21)
Jadi ingatlah bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Dan ingatlah bahwa umur manusia adalah lama hidupnya. Namun, umur yang hakiki adalah waktu yang dia digunakan dalam ketaatan kepada Allah.
Waktu yang digunakan dalam ketaatan inilah umur sebenarnya. Oleh karena itu, kebaikan dan ketaatan akan menambah umurnya yang sebenarnya dan selain itu tidaklah menambah umurnya.
Oleh karena itu, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan gemar melakukan maksiat, maka dia berarti telah menyia-nyiakan hakikat umur yang sebenarnya.
Jadi inti permasalahan ini semua: umur seseorang adalah lama kehidupannya. Dan tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali dengan mentaati Allah, nikmat dalam mencintai dan berdzikir pada-Nya, dan selalu mengutamakan untuk mencari ridho-Nya.
Inilah faedah dari Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Ad Daa’ wad Dawa’ (Al Jawabul Kafi liman Sa’ala ‘aniddawa’i Asy Syafiy), hal. 65-66, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah
Semoga Allah memberikan kehidupan yang hakiki bagi kita semua dengan selalu mentaati-Nya.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikla
Ketahuilah bahwa maksiat dapat mengurangi umur dan pasti dapat pula mengurangi keberkahannya, sebagaimana pula amalan kebaikan dapat menambah umur. Itulah perbuatan dosa dapat mengurangi umur.
Perlu diketahui bahwa para ulama sebenarnya berselisih pendapat dalam masalah ini. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan berkurangnya umur adalah hilangnya keberkahan umur. Ini memang benar dan inilah di antara dampak berbuat maksiat.
Ulama lainnya mengatakan bahwa berkurangnya umur adalah berkurangnya umur secara hakiki artinya umurnya betul-betul berkurang, sebagaimana rizki juga bisa berkurang.
Allah Ta’ala telah menjadikan berkah pada rizki karena berbagai sebab yang bisa menambah rizki tadi. Begitu pula keberkahan umur datang karena berbagai sebab yang bisa menambah keberkahan umur.
Para ulama mengatakan bahwa bertambah umur itu pasti terjadi karena sebab, begitu pula berkurangnya umur. Begitu pula rizki, ajal, kebahagiaan, kesengsaraan, sehat, sakit, kaya, miskin, walaupun itu semua terjadi dengan ketetapan Allah, tetapi pasti ketetapan Allah ini juga terjadi dengan adanya sebab.
Hakekat Kehidupan adalah Hidupnya Hati
Para ulama lain mengatakan bahwa dampak maksiat dapat menghilangkan keberkahan umur karena hakekat kehidupan adalah hidupnya hati. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyebut orang kafir dengan sebutan mayit karena memang mereka adalah orang yang mati hatinya. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah (yang artinya), “Mereka (orang kafir) bukanlah orang yang hidup.” (QS. An Nahl: 21)
Jadi ingatlah bahwa kehidupan yang hakiki adalah kehidupan hati. Dan ingatlah bahwa umur manusia adalah lama hidupnya. Namun, umur yang hakiki adalah waktu yang dia digunakan dalam ketaatan kepada Allah.
Waktu yang digunakan dalam ketaatan inilah umur sebenarnya. Oleh karena itu, kebaikan dan ketaatan akan menambah umurnya yang sebenarnya dan selain itu tidaklah menambah umurnya.
Oleh karena itu, jika seorang hamba berpaling dari Allah dan gemar melakukan maksiat, maka dia berarti telah menyia-nyiakan hakikat umur yang sebenarnya.
Jadi inti permasalahan ini semua: umur seseorang adalah lama kehidupannya. Dan tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali dengan mentaati Allah, nikmat dalam mencintai dan berdzikir pada-Nya, dan selalu mengutamakan untuk mencari ridho-Nya.
Inilah faedah dari Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Ad Daa’ wad Dawa’ (Al Jawabul Kafi liman Sa’ala ‘aniddawa’i Asy Syafiy), hal. 65-66, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah
Semoga Allah memberikan kehidupan yang hakiki bagi kita semua dengan selalu mentaati-Nya.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikla
Langganan:
Postingan (Atom)



